Seperti Apa Risiko Yang Menanti Perbankan Pasca Pandemi ?

Seperti Apa Risiko Yang Menanti Perbankan Pasca Masa Pandemi
Photo by Fas Khan on Unsplash

Seperti Apa Risiko Yang Menanti Perbankan Pasca Pandemi ? Banyak pengamat serta analisis ekonomi dan perbankan yang menilai bahwa kondisi perbankan di masa pandemi masih cenderung aman dan stabil. Hanya saja, rupanya ada risiko atau bahaya yang mengintai sektor perbankan. Risiko yang menanti perbankan pasca pandemi justru di tahun depan.

Menurut Aviliani, Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbankan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), kondisi industri perbankan saat ini masih terbilang sehat dibandingkan sektor industri lainnya. Hal ini karena kesiapan industri perbankan dalam menyesuaikan dirinya lewat pengembangan bisnis digital sebelumnya, bahkan jauh sebelum terjadi pandemi COVID-19 di dunia.

Dan karena bank memang telah menerapkan layanan digital sebelum pandemi COVID-19, sektor ini pun menurut Aviliani sebagai sektor yang paling bertahan saat ini. Pasalnya, para pengguna layanan bank telah terbiasa memanfaatkan mobile banking untuk keperluan transaksi. Meski demikian, apakah artinya sektor perbankan 100% bebas dari risiko pandemi COVID-19? Rupanya tidak, karena justru ada risiko yang menanti perbankan pasca pandemi. Lebih jauh lagi, Aviliani melihat masih ada bahaya yang mengintai, tapi bahaya tersebut justru baru akan muncul tahun depan.

Karena pandemi COVID-19 saat ini mengakibatkan periode krisis dengan karakteristik yang berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, sektor UKM saat ini menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak krisis pandemi COVID-19. Oleh karena itu, pemerintah pun memberikan insentif kepada UKM maupun usaha mikro lewat adanya restrukturisasi di perbankan.

Di samping insentif di atas, pemerintah pun memberikan relaksasi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang terdampak oleh pandemi. Dampak yang terjadi seperti pemasukan yang berkurang dan kehilangan pekerjaan. Di samping itu, terdapat juga insentif berupa restrukturisasi KPR dan kredit kendaraan. Karena restrukturisasi berlaku selama 1 tahun, yaitu dari April 2020 s.d April 2021, Aviliani menilai bahwa nasabah UKM akan kesulitan bertahan jika belum melakukan inovasi . Karena jika hal tersebut terjadi, maka hutang yang direstrukturisasi dapat melonjak lantaran jumlah nasabah yang tidak mampu membayar kewajiban kreditnya.

Aviliani menjelaskan bahwa yang ia khawatirkan justru bukan bank, tapi nasabah bank itu sendiri. Sebagai contoh, saat ini nasabah UKM bisa terbantu oleh restrukturisasi. Tapi begitu masa normal baru (new normal) berlaku, pelaku UKM tidak bisa berperfoma seperti performa mereka sebelum pandemi. Apabila UKM tidak melakukan perubahan, peningkatan pendapatan pada masa sebelum pandemi akan sulit untuk dicapai. Hal ini dapat mengakibatkan nasabah UKM tidak mampu membayar kredit.

Situasi ini lebih berisiko menimpa sektor UKM dan mikro. Pasalnya, perusahaan besar pada masa ini cenderung lebih bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat selama masa pandemi. Di samping itu, Aviliani menilai bahwa banyaknya restrukturisasi kredit akan mengakibatkan melambatnya pertumbuhan pendapatan perbankan. Dengan kondisi yang demikian, sektor perbankan pun akan berfokus pada fee base income maupun pendapatan yang berasal dari non-bunga, seperti transaksi maupun layanan bank lainnya.

BACA JUGA : Risiko Yang Dihadapi Perbankan di Masa Pandemi

Tinggalkan Komentar

Open chat
Halo, Beatrix Da Gomez, saya ingin bertanya materi tentang