Risiko yang Dihadapi Perbankan di Masa Pandemi

Seperti yang sudah Anda ketahui, pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah aspek perbankan. Lantas, seperti apa risiko yang dihadapi perbankan di masa pandemi?

Photo by Alice Pasqual on Unsplash

Pada webinar yang diselenggarakan Bisnis Indonesia dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertemakan Menjaga Industri Perbankan di Tengah Pandemi COVID-19 Melalui Kebijakan Relaksasi Kredit dan Subsidi Bunga, Heru Kristiyana selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK menyebutkan bahwa ada 3 (tiga) potensi risiko pada sektor perbankan yang mendapat perhatian oleh regulator. Pastinya, ketiga risiko tersebut sangat mempengaruhi kondisi perbankan di masa pandemi.

Risiko pertama adalah risiko kredit. Heru menjelaskan bahwa risiko ini mulai nampak di kala sektor UMKM telah terganggu sehingga tidak mampu membayar kewajiban atau kreditnya. Hal ini jelas akan mempengaruhi kondisi bank, di mana rasio non-performing loan (NPL) alias kredit bermasalah bank akan meningkat apabila ada nasabah yang tidak membayar kewajiban.

Risiko kedua adalah risiko pasar. Terkait dengan risiko ini, Heru menjelaskan bahwa munculnya risiko pasar terhadap sektor perbankan terjadi karena pelemahan nilai tukar mata uang, yaitu rupiah.

Sedangkan Risiko ketiga adalah risiko likuiditas. Munculnya risiko ini karena ketidakmampuan debitur atau nasabah dalam membayar kredit atau kewajibannya. Hal ini karena terjadi penurunan pendapatan selama masa pandemi. Dampaknya, debitur pun kesulitan membayar cicilan, yang berpengaruh pada arus kas perbankan.

Padahal, likuiditas perbankan harus selalu terjaga demi menjaga kemampuannya dalam beroperasi setiap hari, termasuk dalam masa pandemi seperti saat ini. Karena jika bank memiliki likuiditas yang cukup, bank pun juga tetap bisa menjaga aktivitas operasionalnya selama masa pandemi. Pasalnya, terlepas dari pandemi, tagihan untuk operasional bank juga akan terus berjalan.

Heru menjelaskan bahwa semua risiko yang dihadapi perbankan di masa pandemi tersebut perlu dihindari. Dan jika terjadi, dampak dari risiko tersebut pun perlu diminimalisir. Oleh karenanya, OJK merilis Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 pada tanggal 16 Maret 2020, yang meliputi 2 (dua) ketentuan.

Ketentuan pertama adalah penilaian kualitas pembiayaan atau kredit, maupun penyediaan dana lain yang didasarkan pada ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga kredit dengan nilai sampai dengan Rp 10 miliar.

Ketentuan kedua adalah restrukturisasi yang dilakukan dengan peningkatan kualitas pembiayaan atau kredit agar menjadi lancar setelah restrukturisasi dilakukan. Sedangkan untuk ketentuan restrukturisasinya sendiri dapat diterapkan oleh bank tanpa adanya batasan plafon kredit. Sedangkan untuk BPR dan BPRS, OJK merilis POJK No. 34/POJK.03/2020 tentang Kebijakan Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Sebagai Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

BACA JUGA : Dampak Pandemi Pada Industri Perbankan

1 komentar untuk “Risiko yang Dihadapi Perbankan di Masa Pandemi”

  1. Ping-kembali: Seperti Apa Risiko Yang Menanti Perbankan Pasca Pandemi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Halo, Beatrix Da Gomez, saya ingin bertanya materi tentang