Pandemi Corona Dan Bank Kecil di Indonesia

Topik pandemi Corona dan bank kecil menjadi pembahasan yang belakangan mengundang perhatian. Akibat dari wabah Covid-19 pada sektor ini terbilang besar dan mengkhawatirkan. Namun, kinerja yang memburuk akibat situasi tak terduga belum memupuskan optimisme bank kecil. Goyahnya perbankan di masa pandemi masih menumbuhkan keyakinan mereka untuk bertahan pada Q2 2020. Ada pula konsolidasi yang berpotensi jadi pilihan alternatif yang menyelamatkan bank kecil dari tekanan ekonom.

Dampak Covid-19 terhadap Bank kecil

Pertumbuhan laba bank kecil yang merupakan bagian dari BUKU (bank umum kegiatan usaha) melambat pada Q1 2020. Kemudian, laporan Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kinerja laba BUKU I serta II secara yoy (year-on-year) mencapai -61,24% serta -12,06%. Sementara BUKU III serta IV justru tumbuh sebesar 6,63% dan 7,61%. Selain itu, perseroan tengah menyiapkan langkah-langkah yang akan membantu mereka menekan dampak negatif akibat Covid-19. Salah satunya adalah memanfaatkan relaksasi secara maksimal yang telah menjadi konsen dari regulator. Dalam hal ini, relaksasi berupa restrukturisasi kredit sampai penurunan GWM (Giro Wajib Minimum). Langkah tersebut menjadi harapan untuk meminimalkan biaya sekaligus meningkatkan pendapatan bank. Digital Banking untuk nasabah adalah langkah lainnya yang akan mendorong efisiensi operasional pada bagian internal.

Penurunan laba terjadi pada semua bank

Penurunan laba yang terpantau dalam pembahasan pandemi Corona dan bank kecil kemungkinan terjadi pada Q2 2020. Bukan hanya itu, dampak tersebut kemungkinan terjadi pada bank-bank lain, tetapi besarannya berbeda berdasarkan aset yang mereka miliki.

Sebagai contoh, bank-bank dengan aset di bawah Rp1 triliun (BUKU I) akan berhadapan dengan penurunan laba yang terjadi karena berkurangnya pendapatan bunga secara signifikan. Sementara itu, bank-bank yang memiliki aset sekitar Rp1 triliun hingga Rp5 triliun (BUKU II) mengalami penurunan laba yang terjadi karena transaksi non-bunga.

Dengan kata lain, masalah kredit yang terjadi pada bank-bank di kelompok BUKU I sudah muncul sebelum Covid-19 merebak di Indonesia. Kemudian, pada Q2 2020, penurunan laba di kelompok ini akan semakin drastis. Hal tersebut juga akan terjadi pada Bank BUKU II meski faktor penyebabnya berasal dari sumber berbeda. 

Sebagian besar bank memang tak dapat mengelak dampak dari Covid-19 mengingat wabah ini terbilang baru dan belum bisa ditangani secara cepat. Namun, bukan berarti perbankan tidak bisa menyelamatkan diri mereka dari situasi buruk tersebut. 

Seperti yang disebutkan, konsolidasi menjadi solusi jangka menengah yang dapat diaplikasikan. Bank-bank, terutama yang masuk ke dalam kelompok BUKU I, dianjurkan untuk mendorong langkah tersebut. Pasalnya, kinerja perbankan akan melambat dan tak efisien akibat tergerusnya pasar kredit selama pandemi. Konsolidasi pun diharapkan dapat jadi penyelamat dalam pandemi Corona dan bank kecil.

BACA JUGA : Pentingnya Likuiditas Bank Di Masa Pandemi

Tinggalkan Komentar

Open chat
Halo, Beatrix Da Gomez, saya ingin bertanya materi tentang