Kondisi Perbankan Di Masa Pandemi

Bagaimana Kondisi Perbankan di Masa Pandemi?

Sejak awal tahun 2020, kondisi perbankan di masa pandemi telah menjadi salah satu sorotan utama. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Pasalnya, perubahan signifikan yang terjadi sebagai dampak dari pandemi COVID-19 atau Coronavirus memang memberikan pengaruh besar di seluruh aspek kehidupan masyarakat. Termasuk di sektor perbankan.

 Dampak Pandemi Corona pada Industri Perbankan 

Dilansir dari Tempo.co, Ekonom Bank Permata Josua Pardede telah memprediksi bahwa kredit yang menjadi tulang punggung keberlangsungan bank akan mengalami pertumbuhan yang melambat di tahun 2020. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi berbagai sektor ekonomi yang mengalami keterpurukan sebagai dampak dari pandemi COVID-19 saat ini. Belum lagi, tahun 2019 kemarin sudah terjadi tren perlambatan ekonomi global. Hal ini ditunjukkan oleh jatuhnya harga komoditas seperti kelapa sawit dan minyak kelapa, dan tren tersebut akan berlanjut di tahun ini.

Sebagai dampak pandemi di perbankan, pertumbuhan kredit diprediksi Josua hanya akan menyentuh kisaran 4-6% secara year-on-year hingga akhir 2020. Harapannya, permintaan kredit akan kembali meningkat sejalan dengan pulihnya perekonomian domestik pada tahun 2020.

 Risiko yang Dihadapi Perbankan di Masa Pandemi

Melambatnya pertumbuhan kredit sebagai dampak pandemi pun memang menjadi salah satu risiko perbankan di masa pandemi yang utama. Dalam webinar Bisnis Indonesia dan OJK yang bertemakan “Menjaga Industri Perbankan di Tengah Pandemi COVID-19 Melalui Kebijakan Relaksasi Kredit dan Subsidi Bunga”, OJK menjelaskan bahwa ada 3 risiko yang berpotensi timbul di sektor perbankan akibat pandemi COVID-19.

Selain risiko kredit yang berpotensi besar timbul lantaran ketidakmampuan nasabah untuk membayar kewajiban (kredit), kedua risiko lainnya adalah risiko pasar dan likuiditas. Risiko pasar timbul dikarenakan melemahnya nilai tukar rupiah, yang memberikan dampak signifikan bagi perbankan di masa pandemi. Sedangkan risiko likuiditas timbul karena debitur/nasabah yang kesulitan membayar kredit akan memengaruhi arus kas perbankan.

 Risiko yang Menanti Perbankan Pasca Pandemi 

Hanya saja, risiko yang dihadapi sektor perbankan rupanya tak sekadar dihadapi pada masa pandemi saja. Pasalnya, ternyata masih ada potensi risiko perbankan pasca COVID yang menanti. Meskipun secara keseluruhan sektor perbankan telah lebih dulu memanfaatkan digitalisasi jauh sebelum pandemi, nyatanya sekali lagi risiko yang masih mengintai tetap berkaitan dengan kredit.

Pandemi saat ini mendorong pemerintah untuk memberikan insentif kepada sektor UMKM yang memang paling merasakan dampak dari perlambatan ekonomi akibat pandemi. Insentif tersebut melalui restrukturisasi kredit perbankan. Selain itu, masih ada relaksasi bagi masyarakat kelas menengah-bawah seperti restrukturisasi KPR dan kredit kendaraan.

Karena restrukturisasi sejak April 2020 hingga April 2021, memiliki potensi bahwa perbankan yang melayani UMKM tidak mampu bertahan. Pasalnya, rekstrukturisasi berpotensi “meledak” lantaran kemampuan membayar kembali oleh debitur dapat diragukan.

Syarat Bank Lewati Krisis Pandemi 

Lalu, bagaimana cara bank melewati krisis pandemi? Berdasarkan hasil analisis para pengamat ekonomi dan perbankan, likuiditas bank adalah syarat agar industri dapat bertahan selama masa pandemi. Mari kita pahami bahwa Peraturan Pemerintah No. 23/2020 yang memungkinkan adanya penempatan dana negara sebagai dukungan bagi bank yang sedang melakukan restrukturisasi dan/atau memberikan tambahan pembiayaan/kredit.

Dikutip dari OJK dan dilansir dari Tempo.co, penanganan kebutuhan likuiditas bagi jasa keuangan termasuk bank akan diarahkan terlebih dahulu dari kapasitas internal bank, yang melalui pasar repo, Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek Bank Indonesia (BPLJP I), dan Pasar Uang Antar Bank (PAUB). Apabila masih belum mencukupi, bank dapat mengajukan permohonan bantuan likuiditas kepada pemerintah, di mana risiko yang ditanggung pemerintah akan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Pentingnya Likuiditas Bank di Masa Pandemi 

Pada dasarnya, pentingnya likuiditas bank selama pandemi menunjukkan kesiapan bank dalam menghadapi masa sulit saat ini. Pasalnya, likuiditas sendiri merupakan tingkat kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan jangka pendek, yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Selama pandemi dan krisis, tagihan pasti akan terus berjalan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko karena lonjakan kebutuhan restrukturisasi kredit dan provisi terhadap kredit yang bermasalah. Dengan demikian, jika suatu bank mampu menjaga likuiditasnya, bank tersebut pun akan tetap mampu operasionalnya agar berjalan secara normal. 

Pandemi Corona dan Bank Kecil 

Kemudian, bagaimana dampak pandemi pada bank kecil? Kompas.com melansir bahwa LPS sendiri menyatakan bahwa tidak semua bank “kebal” dari serangan COVID-19. Pasalnya, bank-bank kecil justru paling berpotensi mengalami risiko likuiditas. Iman Gunadi selaku Direktur Grup Riset LPS menegaskan bahwa likuiditas bukanlah permasalahan yang terjadi pada sektor perbankan. Melainkan ketahanan individual bank. Artinya, meskipun OJK menjamin bahwa kondisi perbankan di masa pandemi aman dan stabil, tidak semua bank mengalami hal serupa.

Mengapa bank kecil? Alasannya beragam. Misalnya permodalan yang tidak cukup besar, risiko kredit yang meningkat karena debitur yang kesulitan membayar kewajiban, dan DPK yang terfokus hanya di beberapa deposan.

Skema New Normal Bank BUMN 

Di satu sisi, bank-bank BUMN justru menyatakan lebih siap menghadapi masa pandemi walaupun skenario new normal menjadi pilihan pemerintah. Pelayanan bank BUMN pada masa pandemi akan tetap tunduk pada protokol kesehatan.

Salah satunya adalah pembukaan kembali seluruh outlet dan kantor di berbagai wilayah, namun dengan beberapa penyesuaian. Contohnya pemasangan penanda jarak pada area antrean dan pembatas pada unit-unit yang berhubungan dengan nasabah secara langsung. Dan bagi para karyawan, protokol kesehatan seperti jarak fisik dengan mengurangi jumlah staf di dalam satu gedung, salah satunya dengan terus memberlakukan kebijakan Work from Home (WFH).

 Laju Perbankan Digital di Masa Pandemi 

Hanya saja, perubahan yang paling terlihat jelas adalah laju kencang perbankan digital di masa pandemi. Perbankan digital menjadi relevan dengan protokol kesehatan baru, di mana masyarakat sangat perlu untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan kontak fisik dengan orang lain. Dengan demikian, bank-bank pun mendorong para nasabah agar memanfaatkan transaksi digital, baik itu lewat mobile maupun internet banking.

Tren tersebut terpantau pada kenaikan sebesar 32% secara year-to-date (ytd) transaksi mobile dan internet banking Bank Mandiri melalui Mandiri Online, pada minggu ke-21 tahun 2020. Bank Central Asia (BCA) pun mencatatkan adanya peningkatan transaksi pembayaran secara digital yang mencapai 20-30% pada masa pandemi. Bahkan, jumlahnya jauh mengungguli angka penggunaan ATM.

Hal tersebut pun mendorong sektor perbankan untuk terus meningkatkan inovasi dalam layanan digital mereka demi kemudahan nasabah dalam mengakses layanan perbankan. Di satu sisi, pihak bank juga akan terus melakukan peningkatan keamanan demi kenyamanan nasabah selama bertransaksi.

Kebijakan OJK di Sektor Perbankan pada Masa Pandemi 

OJK sendiri telah merilis 11 kebijakan stimulus bukan hanya untuk sektor perbankan, tapi juga pasar modal dan sektor keuangan bukan bank. Tujuan dari kebijakan OJK di masa pandemi adalah demi menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, membantu proses pemulihan ekonomi nasional, dan meringankan beban masyarakat. Hal ini juga menjadi wujud dukungan OJK terhadap langkah pemerintah guna percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), melalui penandatanganan SKB terkait dengan PMK64/2020 dan PMK 65/2020.

Terkait dengan kebijakan OJK di sektor perbankan selama masa pandemi, kebijakan yang berkaitan dengan stimulus perbankan dalam wujud restrukturisasi dan relaksasi kredit bagi para debitur yang terdampak oleh pandemi. Kategori Debitur meliputi individu, UMKM, hingga korporasi. Sedangkan skema restrukturisasinya sendiri, pihak bank berdasarkan kemampuan bank dan debitur, namun tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian.

Masyarakat dan Kestabilan Kondisi Perbankan saat Pandemi 

Jadi, sebenarnya bagaimana kondisi kestabilan perbankan selama pandemi? OJK sendiri menjamin bahwa kondisi perbankan di masa pandemi saat ini masih dalam kondisi stabil. Oleh karenanya, masyarakat tak perlu merasa khawatir, ragu, atau takut saat akan mengakses dan menggunakan layanan perbankan. Dengan demikian, masyarakat dapat dengan tenang dalam melakukan transaksi perbankan dengan wajar, alias tak perlu panik.

BACA JUGA : Kantor Perwakilan BI NTT Perkenalkan QRIS

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Halo, Beatrix Da Gomez, saya ingin bertanya materi tentang