Dampak Pandemi Pada Industri Perbankan

Seperti apa dampak pandemi corona pada industri perbankan? Tempo.co menyebutkan bahwa Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi terjadinya potensi melambatnya pertumbuhan kredit pada tahun 2020 ini. Padahal, kredit merupakan tulang punggung yang menentukan kelangsungan hidup sebuah bank. Pertimbangannya adalah kondisi mayoritas sektor ekonomi yang memburuk, dan salah satu alasannya adalah pandemi COVID-19.

Dampak Pandemi Pada Industri Perbankan
Photo by Fas Khan on Unsplash

Josua menjelaskan bahwa tahun 2019 kemarin ekonomi global telah melambat, hal ini terlihat dari penurunan harga komoditas serta memengaruhi permintaan atas kredit perbankan. Dan melihat dampak virus Corona saat ini, tren melambatnya pertumbuhan kredit masih akan berlanjut.

Menurut Josua, pertumbuhan kredit perbankan dan siklus perekonomian mempunyai hubungan pola procyclicality. Artinya, pemberian stimulus fiskal dari pemerintah – bantuan tunai, jaring pengaman sosial, dan stimulus bagi sektor yang terdampak – beserta kebijakan PJK yang counter-cyclical dan kebijakan BI, akan membantu mendorong percepatan perbaikan aktivitas ekonomi nantinya pasca pandemi COVID-19.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah sendiri memandang bahwa kondisi perbankan di masa pandemi masih cukup kuat. Ia sendiri belum melihat adanya potensi bank yang akan dilikuidasi sebagai dampak pandemi corona pada industri perbankan. Dan hingga saat ini, Piter pun belum melihat tanda-tanda bank yang telah mengalami kesulitan dalam segi solvabilitas.

Piter berpendapat bahwa bank hanya akan mengalami kesulitan dari aspek likuiditas saja sepanjang pandemi. Sedangkan kelompok bank yang paling rentan merasakan dampak ini adalah bank dengan aset kecil. Apalagi, kelompok ini telah mengalami kesulitan bahkan sebelum masa pandemi. Hanya saja, Piter juga menilai bahwa bank-bank kecil juga akan masih mampu bertahan melewati masa krisis selama pandemi COVID-19 ini. Dengan adanya pengaturan dan pengawasan dari OJK yang cukup kuat, bank-bank di Indonesia telah memiliki modal serta cadangan yang cukup tinggi.

OJK sendiri sebelumnya telah menetapkan kebijakan terbaru yang berlaku sebagai dampak dari pandemi COVID-19 saat ini. Kebijakan OJK berlaku bukan hanya di sektor keuangan perbankan. Kebijakan ini juga mencakup pasar modal dan lembaga keuangan bukan bank (contohnya lembaga pemberi kredit online). Hal ini merupakan wujud dukungan OJK bagi pemerintah dalam rangka percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Lewat kebijakan tersebut, OJK pun merilis dua stimulus. Stimulus pertama adalah pemberian relaksasi atas restrukturisasi kredit bagi debitur yang merasakan dampak dari pandemi COVID-19 ini, baik itu individu, UMKM, hingga korporasi. Skema restrukturisasi akan diserahkan kepada pihak bank berdasarkan kebutuhan debitur serta kemampuan bank, dengan kredit yang direstrukturisasi ditetapkan berkualitas lancar hingga 31 Maret 2021. Dan stimulus kedua adalah pengaturan restrukturisasi kredit bagi debitur dengan nilai pinjaman yang di atas Rp 10 miliar.

BACA JUGA : Bagaimana Kondisi Perbankan di Masa Pandemi ?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Halo, Beatrix Da Gomez, saya ingin bertanya materi tentang